Gambar 1 - Prospek dan potensi daun kelor yang sudah mendunia

Peluang usaha budidaya kelor sangat menguntungkan dan masih sepi pesaing. Siapkan modal 6 jutaan lalu dapatkan penghasilan >2 jutaan per bulan.

Kelor yang memiliki nama latin Moringa oleifera merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia. Bagian yang paling sering dimanfaatkan dari tanaman ini adalah daunnya.

Bila dulu kelor sering dikaitkan dengan hal-hal mistis atau horor, kini tidak lagi. Bahkan sekarang, semakin banyak orang yang terbuka matanya dan memanfaatkan Moringa sebagai tanaman yang bisa menghasilkan uang.

Kelor yang dulu dibiarkan bebas tumbuh, kini sudah mulai dibudidayakan karena terbukti bisa menghasilkan uang puluhan juta.

Permintaan daun tanaman ini tak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga luar negeri. Manfaatnya yang luar biasa menjadi alasan kenapa daun tanaman ini kian populer.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas prospek cerah berbisnis daun kelor, risiko, hingga analisa usahanya secara detail.

Prospek dan potensi daun kelor yang sudah mendunia

Prospek dan potensi daun kelor yang sudah mendunia

Sumber foto: unsplash.com

Tanaman kelor menjadi salah satu tumbuhan yang sangat direkomendasikan untuk dibudidayakan. Hal ini karena prospek bisnis kelor sangat jelas dan cenderung mudah dilakukan. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Manfaat daun kelor untuk kesehatan dan kecantikan sangat luar biasa. Manfaat ini pun sudah diketahui oleh orang di seluruh dunia.
  2. Tanaman kelor memiliki karakteristik yang cocok dengan tanah di Indonesia. Artinya, dia sangat mudah tumbuh di negara kita.
  3. Pembudidayaan tanaman ini sangat mudah dan tidak rewel.
  4. Daya tahan tanamannya sangat bagus alias tidak mudah mati.
  5. Bisa dibudidayakan di mana saja, baik dengan menyiapkan lahan khusus maupun memanfaatkan lahan yang ada di samping atau depan rumah.
  6. Pemasarannya cukup mudah karena permintaan yang tinggi. Daun keringnya bisa dijual secara langsung ke pelanggan atau pengepul.
  7. Modal yang dikeluarkan cenderung kecil dan saat pohonnya sudah tumbuh, daunnya bisa diambil berkali-kali.
  8. Minim risiko.
  9. Bisa dikerjakan sebagai usaha sampingan dengan waktu yang fleksibel.
  10. Hasilnya jelas bila pemasaran yang dilakukan tepat.

Selain prospek dan potensinya di atas, tentu masih banyak lagi hal lain yang bisa dieksplor dari tanaman yang sudah mendunia ini.

Resiko peluang usaha budidaya kelor

Resiko peluang usaha budidaya kelor

Sumber foto: pexels.com

Sebagaimana disebutkan di atas, bisnis ini sangat minim risiko karena kemudahan budidaya dan permintaannya. Meski begitu, tetap ada tantangan yang mungkin dihadapi selama Anda menjalankannya. Di antara risiko yang mungkin adalah:

  1. Kesalahan budidaya sehingga tanamannya tidak bisa tumbuh.
  2. Perlu lahan yang cukup luas.
  3. Teknik pemasaran yang tidak tepat sehingga kelornya tidak bisa terjual secara optimal.

Melihat risiko di atas, berikut ini adalah beberapa solusi yang bisa dilakukan:

Solusi

  1. Pelajari dengan baik bagaimana cara budidayanya. Kemudian lakukan dengan hati-hati.
  2. Karena pohonnya bisa tinggi (mencapai 7 – 12 meter), bisnis ini memang tidak cocok dilakukan di daerah perumahan. Sebaliknya, bisnisnya sangat cocok dijalankan di area pedesaan di mana masih banyak lahan yang kosong dan tak terpakai.
  3. Teknik pemasaran adalah yang paling penting. Di mana sampai sekarang masih banyak orang yang bingung mau menjual hasil kelornya di mana. Sebagai solusi, Anda bisa menjualnya ke pengepul terdekat. Kalau tidak ada, coba saja lakukan pemasaran secara online. Misalnya ke marketplace atau media sosial.

Itulah beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko atau kekurangan dari peluang bisnis budidaya kelor.

Kunci sukses berbisnis daun kelor

Secara ringkas, berikut ini beberapa trik supaya usaha budidaya kelor yang Anda lakukan dapat berhasil:

  1. Siapkan lahan yang memadai.
  2. Lakukan teknik budidaya kelor dengan tepat.
  3. Rawat dan jaga pohonnya dengan baik.
  4. Bila saatnya memanen, ambil daunnya dan pertahankan kualitasnya.
  5. Jika memang mau mengolahnya sendiri, lakukan semuanya dengan baik.
  6. Jangan terkungkung dengan pasar domestik sebab daun ini berpotensi ekspor. Kalau perlu, cobalah cari tahu cara ekspor daun kelor. Juga gencarkan pemasaran supaya makin banyak orang yang tahu bahwa Anda adalah penjual kelor.

Terakhir, Anda juga harus yakin dan terus berjuang agar produk Anda laris di pasaran.

Analisa usaha budidaya kelor: dari modal sampai BEP

Analisa usaha budidaya kelor dari modal sampai BEP

Sumber foto: pexels.com

Secara sederhana, proses bisnis ini adalah sebagai berikut:

Ditanam -> dibudidayakan -> dipanen -> dikeringkan daunnya -> dijual.

Artinya, produk akhir yang mau dijual kebanyakan adalah daun yang sudah dikeringkan. Setelah dikeringkan, produk ini bisa dibentuk menjadi bubuk moringa. Selanjutnya, bubuk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai:

  1. Minuman dan makanan kesehatan.
  2. Bahan untuk produk kecantikan.

Berikut ini adalah analisa usahanya:

Modal budidaya kelor

Secara umum, modal awal yang dibutuhkan adalah untuk investasi lahan dan bibit. Sementara pengeluaran berikutnya adalah untuk merawat pohonnya agar bisa tumbuh dengan baik. Cek perhitungannya di bawah ini:

  1. Biaya sewa lahan dianggarkan Rp 1.250.000,-
  2. Persiapan lahan dianggarkan Rp 1.250.000,-.
  3. Bibit seharga Rp 700.000,-.
  4. Peralatan seperti golok, keranjang, terpal, selang air, alat semprot, dan yang lainnya seharga total Rp 800.000,-.
  5. Mesin pengering sederhana seharga Rp 1.500.000,-.
  6. Biaya lain-lain Rp 500.000,-.

Secara total, modal investasinya adalah sekitar Rp 6.000.000,-.

Khusus untuk perkiraan harga mesin pengering, jika Anda mengeceknya ke marketplace memang cenderung lebih mahal. Versi baru, harganya 5-6 jutaan. Bahkan ada yang puluhan juta. Anda bisa skip mesin pengering tersebut atau mencari versi bekasnya agar lebih murah.

Biaya operasional per bulan

Selain modal investasi di awal sebagaimana ditulis di atas, Anda juga perlu menyiapkan biaya produksi atau operasional yang dibutuhkan per bulan.

  1. Pupuk, pestisida, dan obat seharga Rp 2.500.000,-.
  2. Kebutuhan packing Rp 500.000,-.
  3. Transportasi dan BBM Rp 1.000.000,-.
  4. Perawatan alat-alat Rp 200.000,-.
  5. Gaji karyawan Rp 1.500.000,-.

Secara total, biaya bulanannya adalah sekitar Rp 5.700.000,-.

Pendapatan usaha budidaya kelor

Bila sudah saatnya panen, Anda bisa mengambil daunnya sebanyak-banyaknya. Pada perhitungan ini, dimisalkan dalam sehari Anda bisa menjual sebanyak 7 kg. Sementara harga daun kelor kering saat ini stabil di kisaran Rp 30.000 – Rp 50.000,-.

Apabila diambil rata-rata dari harga kisaran di atas, maka didapatkan nilai Rp 40.000,-. Artinya jika dalam sehari dapat menjual 7 kg daun kering, hasilnya adalah:

7 x 40.000 = Rp 280.000,-.

Dalam sebulan, pendapatannya bisa mencapai:

280.000 x 30 = Rp 8.400.000,-

Keuntungan bisnis kelor

Menurut perhitungan di atas, keuntungan yang didapatkan dalam sebulan setelah kelor secara kontinu bisa dipanen adalah:

8.400.000 – 5.700.000 = Rp 2.700.000,-.

Pendapatan ini bersifat terus menerus. Tak seperti usaha budidaya kenari yang setiap kali dijual jumlah burungnya berkurang, di sini Anda bisa menikmati daun kelor selama pohonnya tumbuh dengan baik.

BEP atau balik modal

Dengan keuntungan Rp 2.700.000,- per bulan, maka modal investasi yang dikeluarkan pertama kali akan balik di bulan ke-3 dengan perhitungan sebagai berikut:

6.000.000 : 2.700.000 = 2,2 (dibulatkan jadi 3).

Terakhir, jika keuntungan yang didapatkan dari peluang usaha budidaya kelor sudah terkumpul banyak, Anda bisa memakainya untuk membeli mesin oven pengering baru. Kalau pun tidak, pengeringan dengan mengandalkan sinar matahari juga bisa dilakukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here